Sabtu, 22 Maret 2014

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PT. BUMI RESOURCES TBK (REVIEW JURNAL)


A. Identitas artikel
 1. Judul                   : Analisis Laporan Keuangan untuk Menilai Kinerja Keuangan  PT. Bumi Resources Tbk
2. Penulis                  : Marsel Pongoh
3. Jurnal                    : EMBA
4. Volume                 : 1
5. Tahun                    : 2013
6. Nomor                  : 3
7. Halaman                : 669 – 679


LATAR BELAKANG

Tujuan utama dari sebuah entitas bisnis adalah meningkatkan nilai entitas tersebut. Peningkatan nilai suatu entitas harus dibarengi dengan peningkatan kinerja perusahaan pula. Salah satu aspek yang dapat dilihat dalam rangka penilaian kinerja adalah dengan meningkatnya penjualan. Dan semua hal tersebut dapat direfleksikan dalam suatu laporan. Laporan yang menggambarkan perkembangan finansial perusahaan dari suatu periode tertentu. Laporan tersebut biasa disebut dengan laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan salah satu sarana penting untuk mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihak-pihak di luar perusahaan. Esensi laporan keuangan sangat penting mengingat dari laporan keuangan berbagai keputusan penting mengenai kelangsungan hidup dari entitas bisnis terjadi. Tujuan utama dari laporan keuangan adalah penyedia informasi yang penting bagi users of information. Dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No. 1 dijelaskan bahwa tujuan utama dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna dalam pembuatan keputusan bisnis dan ekonomi. Agar dapat memberikan informasi yang berguna, maka laporan keuangan harus berkualitas. Menyediakan informasi yang berkualitas tinggi adalah penting karena hal tersebut
akan secara positif memengaruhi penyedia modal dan pemegang kepentingan lainnya dalam membuat keputusan investasi, kredit, dan keputusan alokasi sumber daya lainnya yang akan meningkatkan efisensi pasar secara keseluruhan.
Pencatatan pengeluaran dan penerimaan setiap akhir periode akuntansi dinyatakan perusahaan dalam laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Dengan mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca dapat diketahui atau akan diperoleh gambaran tentang posisi keuangan, sedangkan analisa terhadap laporan rugi laba akan memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai sarana evaluasi dari pekerjaan bagian akuntansi, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai sarana evaluasi saja tetapi juga sebagai dasar untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang berkepentingan mengambil keputusan. Nilai yang tercantum dalam laporan keuangan selalu berubah-ubah setiap periodenya, atau selalu mengalami penambahan dan pengurangan. Perubahan nilai yang ada dalam laporan keuangan akan berpengaruh di dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu laporan keuangan sangat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan misalnya pemilik perusahaan, pemasok, investor, pegawai, pemerintah (khususnya dalam hal perpajakan). Laporan keuangan dapat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan maka perlu mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos-pos dalam suatu laporan keuangan yang sering disebut analisis laporan keuangan. Dalam hal ini analisa rasio dapat dipakai dalam memberikan gambaran kinerja keuangan mengenai perkembangan perusahaan dan keberlanjutan perusahaan tersebut melakukan usahanya. Analisa rasio adalah menggambarkan suatu perbandingan antara jumlah tertentu (dari neraca atau rekening rugi laba) dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat likuiditas, rentabilitas, aktivitas suatu badan usaha.

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan PT. Bumi Resources Tbk berdasarkan analisis rasio likuiditas, rentabilititas, dan solvabilitas.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian komparatif, dengan melakukan perbandingan (komparasi) kinerja perusahaan PT. Bumi Resources Tbk dari tahun 2009-2011 dengan menggunakan analisis rasio keuangan diantaranya rasio rentabilitas,likuiditas,dan solvabilitas.

Tempat dan Waktu Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini dilakukan di PT. Bumi Resources Tbk melalui situs-situs resmi perusahaan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2013 sampai dengan selesai.

Prosedur Penelitian
1. Mengumpulkan teori–teori yang berhubungan dengan analisis laporan keuangan.
2. Mencari data yang akan digunakan, dalam hal ini yaitu laporan keuangan PT Bumi resources Tbk.
3. Menganalisis laporan keuangan dengan menggunakan rasio keuangan.
4. Memberikan kesimpulan dan saran sehingga dapat menjadi masukan bagi pihak perusahaan.

Populasi dan Sampel
Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek penelitian (Kuncoro, 2009 : 118). Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT. Bumi Resources Tbk. Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi. Dalam penelitian ini sampel yang diambil yaitu laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan selama tiga tahun terakhir yaitu tahun 2009, tahun 2010, dan tahun 2011.
 Metode Analisis Data
Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif, ialah menjelaskan hasil penelitian yang berupa data-data laporan keuangan yang berhubungan terhadap kinerja perusahaan. Data berupa informasi akuntansi yang digunahkan oleh pihak manajemen dalam bentuk laporan keuangan yang kemudian akan dianalisis dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang diperlukan dan dapat menunjukan informasi mengenai rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
 Dalam melaksanakan penelitian ini, di lakukan dengan menggunakan laporan keuangan perusahaan yang telah di publikasikan.
Tabel 1. Laporan Keuangan Bumi Resources TBK
Dalam Jutaan Rupiah
2009
2010
2011
Total Asset
55,933,615
63,363,659
66,814,128
Current Asset
17,362,616
23,161,472
23,406,190
Cash and Cash eq.
477,036
2,066,633
626,507
Trade Receivables
1,725,781
1,660,711
3,221,833
Inventories
1,305,157
1,066,485
1,425,051
Non Current Asset
30,570,997
40,202,107
43,407,930
Fixed Asset Net
8,196,568
7,397,292
8,201,277
Deffered Tax Assets
1,986,729
n.a
n.a
Other Assets
860,697
670,983
830,298
Liabilities
48,493,247
51,506,526
57,960,099
Current Liabilities
15,886,176
12,277,283
23,044,376
Trade Payables
1,749,840
999,456
1,561,480
Taxes Payable
2,068,089
1,978,105
1,925,884
Accrued Expenses
1,382,464
1,874,256
2,409,415
Non Current Liabilities
32,607,072
39,229,243
34,915,724
Shareholder Capital
7,440,367
11,857,133
10,667,629
Revenue
34,451,217
26,315,998
36,281,598
Cost Of Good Sold
23,963,687
17,644,829
21,825,408
Gross Profit
10,487,530
8,671,170
14,456,190
Operating Expense
4,488,002
2,812,562
4,261,406
Operating Profit
5,999,528
5,858,607
10,194,784
Other Income (Expense)
(1,133,570)
(1,088,754)
(4,767,123)
Profit and Loss before Taxes
4,865,958
4,769,853
5,427,661
Comprehensive Profit
1,790,218
2,392,058
1,950,547







Pembahasan

1. Analisis Rasio Keuangan
A. Rentabilitas
a. Gross profit margin
Rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga pokok.
Tabel 2 Gross Profit Magin PT. Bumi Resources, Tbk.
Tahun
Penjualan (a)
Laba Kotor (b)
Gross Profit Margin (c) = b : a
Gross Profit Margin (%)
2009
34,251,217
10,487,530
0,30
30%
2010
26,315,998
8,671,170
0,32
32%
2011
36,281,598
14,456,190
0,39
39%

Tabel 2 diketahui pada tahun 2009 sebesar 30% dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan nilai rasio menjadi 32%, meskipun terjadi penurunan dalam volume penjualan, tetapi gross profit margin mengalami peningkatan karena naiknya harga komoditas batu bara. Sedangkan pada tahun 2011 Gross Profit Margin ratio mengalami kenaikan 7% mengikuti trend perkembangan dari komoditas batu bara yang meningkat.



b. Return on investment (ROI)
ROI mengukur kemampuan perusahaan dengan menghitung jumlah aktiva yang digunakan dalam opersai perusahaan untuk menghasilkan laba.

Tabel 3 Return On Investment PT. Bumi Resources, Tbk.
Tahun
Total Aktiva (a)
Laba Bersih Sesudah Pajak (b)
Return On Investment (c) = b : a
ROI (%)
2009
55,933,615
1,790,218
0,032
3,2%
2010
63,363,659
2,392,058
0,037
3,7%
2011
66,814,128
1,950,547
0,029
2,9%

Tabel 3 diketahui tahun 2009 sebesar 3.2% dan pada tahun 2010 nilai rasio ini mengalami peningkatan dari 3,2% menjadi 3,7%. Peningkatan ini terjadi karena peningkatan nilai laba bersih sesudah pajak lebih kecil dari peningkatan nilai total aktiva. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan nilai rasio menjadi 2,9%. Penurunan ini terjadi karena nilai laba bersih sesudah pajak lebih kecil dari peningkatan nilai total aktiva.

c. Return on equity (ROE)
ROE digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan.
Tabel 4  Return On Equiy PT. Bumi Resources Tbk
Tahun
Total Modal (a)
Laba Bersih Sesudah Pajak (b)
Return On Equity (c) = b : a
ROE (%)
2009
7,440,367
1,790,218
0,2406
24,06%
2010
11,857,133
2,392,058
0,2017
20,17%
2011
10,667,629
1,950,547
0,1828
18,28%

Tabel 4 diketahui pada tahun 2008 sebesar 24,06% dan pada tahun 2009 nilai rasio ini menurun menjadi 20,17% ini terjadi karena terjadi peningkatan pada nilai laba bersih sesudah pajak lebih kecil dari pada peningkatan nilai total modal. Sedangkan pada tahun 2011 juga terjadi penurunan nilai rasio yang drastis menjadi 18,28% akibat terus menurunnya nilai laba bersih sesudah pajak.

d. Net profit margin
Net profit margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dibandingkan dengan volume penjualan.

Tabel 5 Net profit Margin PT. Bumi Resources Tbk
Tahun
Penjualan (a)
Laba Bersih (b)
Net Profit Margin (c) = b : a
NPM (%)
2009
34,451,217
1,790,218
0,05
5%
2010
26,315,998
2,392,058
0,09
9%
2011
36,281,598
1,950,547
0,05
5%

Hasil perhitungan tabel 5 diketahui pada tahun 2009 sebesar 5 % dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan nilai rasio sebesar 4% menjadi 9 % sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan nilai rasio menjadi 5 %. Penurunan ini terjadi akibat menurunnya nilai laba bersih sedangkan penjualan terjadi peningkatan.

B. Likuiditas
a. Current ratio
Current ratio menunjukkan hubungan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar suatu perusahaan.


Tabel 6 Current Ratio PT. Bumi Resources Tbk
Tahun
Hutang Lancar (a)
Aktiva Lancar (b)
Current ratio (c) = b : a
2009
15,886,176
17,362,618
1,09
2010
12,277,283
23,161,472
1,88
2011
23,044,376
23,406,190
1,01

Tabel 6 menunjukan bahwa tahun 2009 sebesar 1,09 dan tahun 2010 terjadi peningkatan pada nilai rasio yang naik menjadi 1,88. Peningkatan ini terjadi karena nilai pada nilai aktiva lancar yang jauh lebih besar dari peningkatan nilai hutang lancar. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan rasio menjadi 1,01. Hal ini tejadi karena hutang lancar perusahaan yang bertambah drastis.

b. Quick ratio
Rasio ini merupakan rasio uji cepat yang menunjukkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lan       car tanpa memperhitungkan persediaan.
Tabel 7 Quick Ratio PT. Bumi Resources Tbk
Tahun
Hutang Lancar (a)
Aktiva Lancar (b)
Persediaan (c)
Quick Ratio (d) = b – c : a
2009
15,886,176
17,362,618
1,305,157
1,01
2010
12,277,283
23,161,472
1,066,485
1,79
2011
23,044,376
23,406,190
1,425,051
0,95

Tabel 7 diketahui pada tahun 2009 sebesar 1,01 kali. Dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan pada nilai rasio menjadi 1,79, peningkatan ini terjadi karena terjadi penurunan yang pada nilai hutang lancar. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan pada nilai rasio menjadi 0,95 ini disebabkan adanya peningkatan nilai hutang lancar yang sangat besar sedangkan nilai aktiva lancar yang tidak begitu mengalami perubahan

c. Cash ratio
Cash ratio merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayarkan hutang. Pada tahun 2009 sebesar 0,03 hal tersebut menunjukkan rasio kas yang kurang baik. Dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan nilai rasio yang drastis menjadi 0,16. Peningkatan ini terjadi disebabkan oleh adanya peningkatan nilai yang sangat besar pada nilai kas dan setara kas serta penurunan pada bagian hutang lancar. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan nilai rasio menjadi 0,027.

d. Inventory to net working capital
Rasio ini digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan
Tabel 8 Inventory to Net Working Capital PT. Bumi Resources Tbk
Tahun
Persediaan (a)
Aktiva lancar (b)
Hutang lancar (c)
Inventory to NWC (d) = a : b – c
2009
1,305,157
17,362,618
15,886,176
0,88
2010
1,066,485
23,161,472
12,277,283
0,09
2011
1,425,051
23,406,190
23,044,376
3,93

Tabel 8 diketahui pada tahun 2009 nilai rasio ini adalah 0,88. Dan pada tahun 2010 terjadi penurunan nilai rasio menjadi 0,09. Penurunan nilai rasio ini terjadi akibat menurunnya nilai persediaan Sedangkan pada tahun 2011 terjadi peningkatan nilai rasio menjadi 3,93.



 C. Solvabilitas
a. Debt ratio
Debt to ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total hutang dengan total aktiva.
            Tabel 9 Debt ratio PT. Bumi Resources
Tahun
Total Aktiva (a)
Total Hutang (b)
Debt Ratio (c) = b : a
DR (%)
2009
55,933,615
48,493,247
0,86
86%
2010
63,363,659
51,506,526
0,81
81%
2011
66,814,128
57,960,099
0,86
86%

Hasil perhitungan Tabel 9 diketahui pada tahun 2009 nilai rasio adalah 86% dan pada tahun 2010 terjadi penurunan nilai rasio menjadi 81%. Penurunan nilai rasio ini terjadi karena peningkatan nilai total aktiva lebih besar dari pada peningkatan nilai total hutang. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi peningkatan pada nilai rasio menjadi 86 %.

b. Debt to equity ratio
Debt to equity ratio adalah rasio yang membandingkan hutang perusahaan dengan total ekuitas.
Tabel 10 Debt To Equity Ratio PT. Bumi Resources Tbk
Tahun
Total Modal (a)
Total Hutang (b)
Debt To Equity Ratio (c) = b : a
Debt to Equity Ratio (%)
2009
7,440,367
48,493,247
6,51
65,1%
2010
11,857,133
51,506,526
4,34
43,4%
2011
10,667,629
57,960,099
5,43
54,3%

Perhitungan pada Tabel 10 diketahui pada tahun 2009 sebesar 65,1% dan pada tahun 2010 terjadi penurunan nilai pada rasio menjadi 43%. Penurunan nilai rasio ini disebabkan oleh peningkatan nilai total modal yang lebih besar dari peningkatan nilai total hutang. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi peningkatan pada nilai rasio menjadi 54 % karena menurunnya nilai total modal.

KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Rasio likuiditas, secara keseluruhan keadaan perusahaan berada dalam keadaan baik,meskipun selama kurun waktu dari tahun 2009 – 2011 berfluktuasi. Makin tinggi nilai rasio likuiditas, menandakan bahwa keadaan perusahaan berada dalam kondisi baik atau liquid.
2. Rasio solvabilitas, keadaan perusahaan tahun 2009 - 2011 berada pada posisi solvable. Hal ini dapat dilihat bahwa keadaan modal perusahaan cukup untuk menjamin hutang yang diberikan oleh kreditor.
3. Rasio profitabilitas secara keseluruhan dari tahun 2009 -2011 keadaan perusahaan berada dalam posisi baik karena mengalami peningkatan seiring kemampuan perusahaan dalam meningkatkan laba dan efisiensi dalam menggunakan sumber daya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar