Selasa, 31 Desember 2013

Pantai Seger, Tanjung Aan, Pantai Senggigi & Gili Trawangan di dalam keindahan Lombok

Seperti biasa dalam tulisan saya kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya sebagai traveler amatir. Kenapa dibilang amatir? Karena pada dasarnya saya suka traveling tapi tidak dalam intensitas yang cukup untuk dibilang sebagai traveler sejati. Yaa, bisa dibilang dalam setahun setidaknya saya hanya 3-4 kali bepergian ke luar kota. Untuk saat ini situasi dan kondisi baik dari segi financial ataupun fisik, saya hanya mampu untuk domestic trip saja. Untuk foreign trip yaa nanti saja jika rezeki ada :D
            Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan pengalaman amazing trip saya ke Pulau Lombok. Siapa sihh yang tidak tahu Lombok? Seluruh dunia juga tahu..tapi mungkin Bali masih  tetap jadi primadona yaa bagi orang-orang luar negeri. Jujur menurut pendapat saya, Lombok itu lebih indah melebihi Bali, yang terkenal dari Lombok yaa apalagi kalau bukan pulau-pulau kecil dan pantai yang indah di sekelilingnya. Bulan Maret tahun 2013 kemarin saya sempat meluangkan waktu untuk berlibur kesana sekitar 4 hari 3 malam. Waktu yang kurang sihh bagi saya, untuk menyusuri semua spot yang bagus dan menarik di Pulau Lombok. Tapi setidaknya saya sudah menginjakkan kaki saya di spot-spot terkenal di Pulau Lombok. Yaa, apalagi kalau bukan Pantai Senggigi, Pulau Gili Trawangan, Pantai Kuta dan masih banyak lagi.
            Dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara International Lombok setidaknya butuh waktu perjalanan hampir 2 jam. Begitu sampai Bandara International Lombok saya hanya menggunakan jasa taksi di sekitar bandara, karena pada saat itu sudah cukup larut malam, saya langsung mencari tempat penginapan. Kebetulan destinasi pertama saya adalah pantai Kuta. Jarak tempat penginapan saya tidak jauh dari bibir pantai Kuta, karena hanya dipisahkan jalan raya saja. Saat pagi harinya saya berjalan kaki menyusuri  Pantai Kuta. bagi saya, keadaan disana cukup menarik karena kontras dengan bukit dan tebing. Hanya saja, di pinggir pantai banyak anjing liar berkeliaran dan air lautnya kurang jernih. Itu membuat saya agak kurang nyaman. Di sekitar penginapan saya, ternyata banyak disewakan motor-motor untuk para turis. Saya mendapat referensi dari petugas penginapan untuk mendatangi Pantai Seger, dan Tanjung Aan. Katanya, disana pemandangannya lebih indah dan air lautnya lebih jernih dan biru. Saya pun tertarik.  dengan kerabat, saya menyewa motor untuk menuju kesana kalau tidak salah seharga 25 ribu, tetapi belum termasuk bensin. Untuk menuju kesana, kira-kira 3 km untuk menuju ke pantai Seger. dan sekitar 3,7 km untuk menuju pantai Tanjung Aan.  Di perjalanan, keadaan desa sekitar cukup sepi, hanya saja terlihat beberapa turis asing. di kanan-kiri saya melihat banyak pohon kelapa, rumah penduduk, dan  Hanya terlihat warung-warung, café, dan restoran yang disediakan untuk turis.
            Sesampainya di Pantai Seger, tepat siang bolong dan matahari cukup menyengat (yaa cukup membuat kulit agak gelap) saya kagum dan kaget, begitu terlihat laut lepas dengan air lautnya yang biru bergradasi dari tosca hingga ke biru tua terpampang jelas di depan mata saya. Pasirnya yang putih bersih, dan ombak yang begitu tenang membuat saya jatuh cinta. Ini baru pantai! Pantai yang masih perawan, disana benar-benar sepi pengunjung. Hanya terlihat beberapa orang saja, dan tidak begitu di komersilin. Beda dengan pantai-pantai di Bali, yang ramai pengunjung, orang-orang yang berjualan, dan fasilitas-fasilitas publik yang sudah menjamur. Begitu speechless nya saya, saya pun langsung bermain air dan berfoto. Hampir 1 jam saya berada disana, kemudian saya berlanjut ke pantai Tanjung Aan yang katanya tak kalah indah. Tanjung Aan ini dikelilingi bukit-bukit dan tebing. Dan saya harus sabar menyusuri jalannya. Sesampainya disana saya juga kagum melihat keindahan pantai ini, air lautnya biru tosca jernih, pasirnya yang unik, putih dan butirannya agak besar seperti lada putih, kontras dengan tebing dan bukit disekelilingnya, tapi disini pengunjungnya sudah agak lumayan banyak. Saya pun berenang di pinggiran pantai, airnya hangat dan begitu bersih. Hingga mulai terasa bosan, saya pun kembali ke penginapan.


            Hari selanjutnya, destinasi saya adalah Pantai Senggigi. Agak jauh memang dari tempat saya berada sebelumnya, saya harus melewati kota Mataram dulu. Pantai Senggigi ini memiliki garis pantai yang cukup panjang, menurut saya disini sudah ramai dan banyak tempat-tempat hiburan malam, restoran, café, cottage hingga hotel bintang lima. Di sepanjang jalan, saya sering menjumpai turis-turis asing. Pantai Senggigi view nya lebih luas, namun air lautnya kurang jernih dan pantainya sudah dipenuhi perahu-perahu. Saya kurang begitu exited. Saya memutuskan untuk menginap sehari di cottage di sekitar pantai. Di setiap traveling pasti tak lupa untuk menikmati kuliner khas daerah setempat, di Pulau Lombok yang terkenal adalah plecing kangkung dan ayam taliwang. Saya pun segera berburu makanan khas itu, saya prefer ke tempat makan yang ramai di pinggir jalan raya Senggigi daripada di restoran terkenal, karena selain harganya murah rasanya juga masih asli. Kalau tidak salah saya mencoba makanan itu di warung makan kaki lima di depan Paragon Hotel&Café, selain ayam taliwang dan plecing kangkung saya juga mencoba soto babalung yang pedas dan segar, yaa lumayan recommended lahh.
            Di hari-hari terakhir saya di Pulau Lombok, tujuan saya selanjutnya adalah Gili Trawangan, tempat inilah yang membuat saya penasaran karena begitu ramainya diperbincangkan masyarakat dunia. Gili trawangan adalah nama pulau yang eksotis akan keindahannya, dari Senggigi saya menggunakan taksi. Di sepanjang perjalanan menuju Gili Trawangan, pemandangannya cukup menarik di sebelah kiri saya, full dengan cottage-cottage dan hotel-hotel selang berganti dengan Pantai Senggigi dan di sebelah kanan saya full pemandangan bukit-bukit, tebing, dan rumah penduduk.  Ada satu spot yang cukup menarik untuk anda-anda yang suka berfoto, namanya bukit Malimbu. Beautiful spot.
            Untuk menyebrang ke pulau Gili Trawangan, saya harus transit di pelabuhan Bangsal. Disana kita bisa memilih menggunakan kapal motor untuk umum, maupun boat. Tentu dari harganya beda, saya dan kerabat memlih untuk naik kapal motor umum karena lebih murah dan membeli tiketnya di loket setempat (saya lupa harga tiketnya berapa hehehe) hampir satu jam saya menyebrang ke Gili Trawangan, dan saat itu cuaca cukup cerah dan ombak lumayan besar. Sesampainya disana, saya harus mencari tempat menginap karena saya berniat bermalam di pulau itu. Keadaan disana sangat ramai, dan 70% nya adalah turis asing dari berbagai macam negara, cottage-cottage dan hotel-hotel pinggir pantai yang view nya langsung menghadap ke pantai sudah full. Saya pun mencari homestay/cottage di dalam dekat rumah penduduk, tak perlu bingung mencari tempat penginapan karena banyak calo/perantara yang menawarkannya di sekitar pelabuhan. Namun, harus pintar-pintar menawar. Saya pun mendapatkan cottage yang nyaman, meskipun tidak begitu mahal tapi lumayan untuk bermalam. Bagi saya, penduduk-penduduk Gili Trawangan sangat ramah. Saya pun menikmati keindahan pulau dan pantainya dengan menggunakan sepeda yang telah disewakan oleh cottage, selain sepeda masyarakat pulau ini juga menggunakan delman atau andong sejenis itulah (saya lupa namanya) Gili Trawangan ini memang luar biasa, ternyata ini yang disebut heaven on earth. Lautnya jernih dengan warna biru tosca dan biru tua, diseberangnya terlihat pemandangan bukit-bukit berjajar rapih dengan pulau-pulau terdekat di sekitar Gili Trawangan.  Di sepanjang pinggir pantai, saya menjumpai pohon-pohon rindang mulai dari Bakau dan lain-lain.
            Menurut petugas cottage yang saya tempati, Gili Trawangan adalah surganya orang berfoya-foya dan hura-hura. Disini sah-sah saja anda melakukan apa saja, asal jangan mencuri. . Kalau ketahuan mencuri, sang maling akan di arak keliling pulau dan orang-orang akan tertarik untuk menontonnya. tak heran banyak turis asing disini, di pinggir pantai saja saya banyak menjumpai club-club malam dengan fasilitas private party, café-café exclusive dsb. Saya benar-benar jatuh cinta dengan tempat ini. Di sore harinya di lapangan alun-alun pulau kebetulan ada atraksi gebuk rotan oleh penduduk sekitar. Saya pun tertarik menontonnya, dan turis-turis asing juga begitu exited melihatnya. Saat sunset, saya berjalan menyusuri pantai dan berniat akan melanjutkan makan malam di restoran pinggir pantai.


            Hingga keesokan paginya saya berniat untuk menikmati keindahan bawah laut di sekitar Gili Trawangan, dengan snorkeling. Dari paket wisata bawah laut, saya berkesempatan mengelilingi pulau Gili Air dan Gili Menok. Kalau tidak salah satu orang hanya membayar 100ribu/150 ribu (agak sedikit lupa) saya sangat puas menikmatinya. Hingga siangnya saya harus segera meninggalkan pulau Gili Trawangan, karena malamnya saya harus sudah berada di Bandara Internasional Lombok dan pulang ke kota tercinta saya Bekasi J sebenarnya masih banyak tempat yang belum saya kunjungi, seperti daerah dimana suku Sasak dengan culturenya. Tapi mau gimana lagi, waktu harus memisahkan saya dengan Pulau Indah ini. Lombok, terimakasih atas pengalaman indah yang telah kau berikan. I Love Indonesia!
           

            

1 komentar: